siddiqbasid

"hargailah hari kemarin, mimpikanlah hari esok, tapi hiduplah untuk hari ini"


1 Komentar

Siapa yang Tidak Merindukan Suami Seperti Ini?

“KATA-KATA HIKMAH” Kisah Istri Uje

Berikut ini adalah penuturan Pipik saat tahlilan malam kedua yang disiarkan di program Just Alvin. Semoga bisa diambil hikmahnya :

“Uje buat saya, beliau selain suami, beliau guru buat saya. Saya bangga luar biasa. Saya selalu ingat kata-kata beliau, yang selalu mengajarkan saya dan anak saya. Ke anak saya beliau selalu bilang, Abi tidak akan pernah memaksa kalian harus seperti Abi. Kalian sudah bermanfaat untuk orang lain saja, Abi sudah senang.

Mau kalian jadi apapun kalian harus beriman, jangan tinggalin salat. Selalu setiap kali bertemu siapapun, baik itu pemulung, kalian harus mendoakan dia. Itu yang selalu diterapkan kepada anak-anak.

Dan beliau mencontohkan hal-hal yang luar biasa. Seperti di lampu merah, ada penjual apapun, beliau selalu beli. Sampai anak-anak (bertanya), Abi buat apa beli kemoceng. Udah beli saja yang penting bermanfaat. Yang terpenting mereka pulang bawa rezeki buat istri dan anak-anaknya. Itu yang selalu dicontohkan kepada anak-anak.

Maaf, terus ada peminta-minta dia selalu bilang ke anak-anak, ayo siapa yang mau ngasih, ayo siapa yang punya uang. Lalu anak-anak saling berebutan mencari di kantongnya masing-masing.

Dan beliau juga selalu menasehati saya, kamu harus jadi wanita yang kuat. Karena kamu adalah ibunya muslimat-muslimat semuanya.

Kamu harus bisa mendidik anak-anak, karena lima menit kedepan kita gak pernah tau skenario Allah untuk kita, lima menit ke depan, abi gak pernah tau apa yang akan terjadi pada diri abi. Jadi kamu harus kuat, kamu harus siap.

Dan Allah membuktikan itu. Lima menit gak pernah tau, takdir baik seperti ini. Dan saya bangga luar biasa.

Beliau juga mengajarkan saya, jika kita dicaci maki, kita dizolimi, kita jangan pernah membalasnya dengan caci makian. Doakan mereka. Itulah sesungguhnya kemuliaan.

Saya, juga berterimakasih kepada semua masyarakat dimanapun. Saya yakin beliau sekarang sudah bertemu dengan Rasulullah Alaihi wassalam, yang menjadi kebanggan beliau.

Setiap mau tidur, saya tidak pernah tidak mendengar dari mulut beliau bersenandung, bershalawat. Tidak pernah tidak dengar. Sampai belakangan ini juga selalu begitu.

(Pipik terisak. Dia terdiam sesaat….)

Sewaktu saya melihat dan menyaksikan sendiri, begitu banyak antusiasme masyarakat yang ingin memegang keranda, menggendong dan ingin mensolatkan, ingin mengantar ke pemakaman. Di dalam mobil jenasah saya peluk keranda, saya ngobrol. Dan saya yakin suami saya mendengarkan saya. Saya bilang, Abi, Umi bangga punya suami seperti Abi. Abi bangga, Allah kirimkan manusia seperti Abi.

Karena saya sama beliau dari nol. Karena saya juga bukan… bukan…bukan… Saya juga bukan wanita, bukan wanita yang baik-baik…kita berdua mengarungi perjalanan yang luar biasa. Kita berdua susah senang. Ini adalah ujian yang harus saya nikmati berdua.

Saya bilang, Abi bisa lihat ribuan masyarakat mengagumi Abi. Abi bangga…Abi bangga. Umi janji, Umi akan mendidik anak-anak, membesarkan anak-anak. Sehingga Abi bangga sama mereka. Mereka akan menjadi besar seperti Abi. Saya bicara seperti itu.

Ya Allah, Saya ingat satu, saya ingat terakhir kemarin. Saya gak menganggap ini firasat. Tapi saat siang, saya tidur sama beliau, beliau pegang tangan saya. Terus beliau bilang, Umi belajar dong, mandiin jenasah. saya bilang gak ah, takut.

Gak apa-apa, kita coba yuk, Dikaffa-nin. Siapa yang jadi modelnya Bi, saya bilang begitu. Terus dia bilang, Abi saja yang jadi modelnya. Ya sudah kita berdua saja yang jadi modelnya. Saya bercandain begitu. Atau Umi yang jadi Malaikatnya deh, terus umi tanya, “Man Robbuka”. Saya masih becandain seperti itu. Dan beliau ketawa..

Beliau..beliau..ngajak saya baca “Subhanal Malikil Quddus”, yang selalu beliau baca sebelum memulai ceramah. Ayo, Mi, kita baca bareng-bareng. Terus saya bilang, Abi, kok saya baca “Subhanal Malikil Quddus” suka terbalik-balik yah. Lalu beliau tuntun saya.

Dan saya ingat kata-kata terakhir beliau di sini, di meja makan. Beliau bilang, kalau Abi masuk surga, terus Abi melihat gak ada orang tua Abi di situ, Abi akan tanya sama Allah, ya Allah, saya tidak mau masuk surga karena tidak ada orang tua saya. Saya mau keluar mencari orangtua saya.

Lalu dia bertanya kalau Abi masuk surga, gak ada anak-anak Abi, Abi akan bilang sama Allah. Ya Allah saya masuk surga tapi kamu meninggalkan anak-anak saya.

Kalau Abi masuk surga, Abi gak melihat  Umi, Abi akan keluar, ya Allah kenapa gak ada istri saya. Jadi, buat saya beliau lebih mengutamakan orang lain terlebih dahulu.

Salamun kha irotim muttaqin, semoga kita semua penghuni kuburnya dan surganya bisa berkumpul bersama di sana.

Allahumma aamiin,semoga kita bisa memetik hikmah di dalamnya


1 Komentar

Aku, Kamu, dan Janji Tuhan

Hujan yang turun sejak ba’da dzuhur tak kunjung berhenti hingga sore itu. Tambah deras malah. Bagiku hujan seperti itu selalu kondusif untuk bermalas-malasan di balik selimut hingga lupa waktu. Namun bermalas-malasan di sofa panjang sambil menyaksikan siaran TV lebih menarik perhatian hari itu. Mama juga ikut nonton.

Tu..Tut…Tu..Tut… Sebuah SMS masuk ke handphoneku.

“SMS dari pacar mu?”, tanya mama yang melihatku ketawa kecil setelah membaca SMS yang barusan masuk.

“Pacar ?”, jawabku sambil mengenyitkan dahi.

Mama langsung duduk mendekat, persis di sebelah ku.

Mati, kena interogasi lagi nih.

“Bukan, Ma, cuma teman !”

“Cuma teman kok sampe senyum-senyum gitu. Pacar kamu namanya siapa ?”

“Saya gak punya pacar, Ma”

Gak usah disembunyi-sembunyikan

“Memang tidak ada yang disembunyikan kok, Ma.

Saya gak punya pacar. Serius !”

“Serius ? Tak adakah seorang wanita yang singgah di hati mu?

Lihat teman-teman sebayamu, masing-masing sudah punya pasangan (tiap) malam minggu.”

“Ma, diantara banyaknya pertemuan tentu ada satu dua wanita yang menjadi idaman ku.

Tapi, apakah haruskah aku memintanya untuk menjadi pacarku dan menemaniku menghabiskan malam di tiap sabtu?”

Ah, bukannya kata “pacar” tidak pernah ada dalam perbendaharaan agama kita.

“Ma, bukankah berpacaran berarti meminta wanita itu untuk menunggu?

Pantanglah buat laki-laki sepertiku meminta wanita untuk menunggu.

Tak bolehkah aku meminangnya saat aku merasa benar-benar siap?

Memintanya untuk menjadi pendamping hidup dunia akhiratku tentunya.

Jodoh, rezeki, dan ajal bukannya sudah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz ya Ma?”

Sejurus kemudian mama membalas pertanyaanku.

“Jodoh memang di tangan Tuhan.

Tapi kalau kita tidak berusaha, jodoh itu akan selamanya hanya berada di genggaman Tuhan.

Yang penting berani memilih dulu, jadi kita tau jodoh apa tidak.

Memangnya kamu tidak takut “kehabisan” wanita yang baik ?”

Aku tersenyum kecil mendengar kalimat terakhir mama.

“Ma, dunia ini tidak akan pernah kehabisan stock wanita-wanita yang setia sujud kepada-Nya di sepertiga malam.

Tidak pernah kehabisan stock wanita-wanita yang senantiasa menutup aurat, menjaganya dari yang bukan muhrimnya.

Tidak pernah kehabisan stock wanita-wanita yang bertutur lemah lembut dan menjaga lisannya.

Tidak akan pernah, Ma.

Kecuali jika tak ada lagi laki-laki yang setia mengumandangkan adzan di surau.

Kecuali jika tak ada lagi laki-laki yang senantiasa menjaga pandangan terhadap yang bukan muhrimnya.

Kecuali jika tak ada lagi laki-laki yang melantunkan ayat-ayat Allah dengan tartil.”

“Lalu bukan kah pacaran itu tanda bahwa kita tidak mampu menahan?

Tanda bahwa kita tidak percaya lagi pada janji Tuhan, jika kita baik maka diberi pendamping yang baik pula”

Mama tersenyum mendengar jawabanku. Manis sekali.

“Kamu benar anakku”

#Bersabarlah.

Di dunia ini ada laki-laki yang selalu ingin meminangmu, namun dia tidak merasa mampu. Tepatnya belum merasa mampu. Yang selalu menanti dengan do’a yang selalu terselip diantara do’a yang dibacakan setelah shalatnya. Menanti hingga pertemuan yang dijanjikan itu tiba tepat pada waktunya. Tepat. Tidak kurang tidak lebih.


Tinggalkan komentar

Dunia yang Tak Perlu Ku Genggam

Aku yang ego dengan ke-tidak kamu-an mu
Aku yang ego dengan ke-aku-an ku
Aku yang terbang tinggi dalam angan, dihempas sangat rendah dalam kenyataan

Kita ternyata tak perlu hidup di dunia yang selalu hanya ada aku di tempat terbaik.
Kamu tak perlu jadi bintang lalu aku bulannya.
Kamu tak perlu jadi semak lalu aku mawarnya.
Sungguh tak perlu.
Hidup tak semestinya dijalani dengan aku yang selalu ingin jadi nomor satu dan kalian jadi nomor sekian.

Kenapa tak dari dulu saja kita berlari beriringan?
Ah, maafkan aku, salahku.

Terimakasih Tuhan, KAMU selalu ”menyentil”  ku dengan cara yang menakjubkan.


Tinggalkan komentar

ITS untuk Indonesia : Electric City Car

Sepertinya mimpi bangsa ini untuk membangun industri mobil listrik semakin terang. Setelah sebelumnya beberapa karya anak bangsa mempertontonkan hasil kerja keras mereka dalam menciptakan mobil listrik, kini muncul satu karya lagi yang tak kalah ciamik. Kali ini karya almamater saya sendiri ITS. Sebuah mobil listrik empat penumpang diluncurkan hari ini di kampus perjuangan ITS.

Karya fenomenal kembali lahir dari tangan-tangan kreatif sivitas akademika ITS. Sebuah mobil listrik jenis 4-Seater Electric City Car secara resmi diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA, Sabtu (26/1). Tak hanya itu, mantan rektor ITS ini juga diberi kepercayaan untuk memberikan nama terhadap mobil listrik yang menjadi ikon baru kampus perjuangan. Nama “EC-ITS 1.0″ diambil dari filosofi mobil tersebut dimana kata EC yang dibaca easy memiliki makna bahwa membuat mobil listrik itu mudah jika kita mau. (www.its.ac.id)

“Mengapa mudah? Karena sebenarnya membuat mobil seperti ini mudah. Bagi ITS ini sudah terbukti. Mudahnya fasilitas yang ada semoga dapat dimanfaatkan, Mudah pendanaannya, mudah realisasinya dan mudah dalam jejaring” – Mohammad Nuh, Mendikbud

Teruslah berkarya wahai muda-mudi tanah air. Jangan mau dijajah lagi oleh Jepang, Eropa, dan bangsa lain dalam bidang automotif. Kita bisa. It’s EC.

“EC-ITS 1.0, Karya ITS Untuk Indonesia” (www.its.ac.id)

“Video Profil – Mobil Listrik ITS” (youtube.com)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


3 Komentar

Aku Hanya Retakan Kecil

hanyutkan aku di liku sungai

tuntun hingga ke ujung pertempuran

sucikan raga dari racun

tunjukkan padaku, bagaimana menjadi utuh kembali

terbangkan aku dengan sayap perak

tinggalkan hitam nyanyian kelam

dengan hangat cahaya-Mu

lalu hempaskan ke alam mimpi

karena aku hanyalah retakan kecil

di istana kaca-Mu

sedikitpun tak berarti  di mata-Mu

bawa aku pulang dalam mimpi yang menyilaukan

dengan seberkas rahasia yang pernah kulihat

cuci raga dari kesedihan

tunjukkan padaku, bagaimana menjadi utuh kembali

karena aku hanyalah retakan kecil

di istana kaca-Mu

sedikitpun aku tak tahu

apa yang harus kulakukan

“Castle of Glass”  Linkin Park (Living Things) 2012
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.786 pengikut lainnya.