Kisah Dua Sahabat Dalam Perang
Oktober 21, 2008
Betapa hancurnya hati seorang prajurit Perang Dunia I ketika dia mendengar berita bahwa sahabat karibnya gugur dalam medan pertempuran yang jauh dari markas. Dia meminta izin dari letnannya untuk diperbolehkan menjemput tubuh sahabatnya yang gugur itu.
“Kamu boleh saja pergi,” kata Sang Letnan, “tetapi usahamu itu tidak sepadan. Kawanmu sudah mati dan kamu malah bisa ikut mati di sana.”
Tanpa mempedulikan nasihat atasannya, prajurit muda itu tetap saja pergi. Dengan perjuangan yang luar biasa, akhirnya dia berhasil menemukan sahabatnya. Sembari memanggul mayat sang sahabat, ia pulang ke markas. Di tengah jalan, ternyata prajurit muda itu sendiri tertembak dan terluka parah.
Di markas, Sang Letnan memeriksa keadaan prajurit yang terluka parah itu, dengan sendu Sang Letnan berkata, “Sudah kubilang, usahamu akan percuma saja. Sahabatmu sudah mati dan… kamu juga akan mati….”
“Tidak percuma, Pak.…” lirih prajurit muda itu.
“Apa maksudmu ‘tidak percuma’?” tanya Sang Letnan. “Sahabatmu sudah mati!”
“Tidak percuma, Pak,” jawab prajurit muda itu. “Ketika saya menemukannya, dia masih hidup… dan dia sempat berkata, ‘Bud, aku tahu… kamu pasti datang….’”
Dalam hidup ini, suatu hal dianggap bernilai atau tidak bernilai sangatlah tergantung dari bagaimana kita memandangnya. Pupuklah terus kebijaksanaan, himpunlah keberanian, dan ikuti suara hati Anda; dengan demikian, Anda tidak akan pernah menyesal kemudian.
Copied from yauhui.net
Entry Filed under: Renungan-Motivasi. .
7 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed





1. Jiewa | November 12, 2008 at 2:58 pm
Halo Siddiq jari
Thx ya udah mampir blog ku..
Btw, saya setuju… tidak ada sesuatu yg tidak bernilai jika kita memandang dr sudut yg tepat. Tidak ada sesuatu yg kebetulan, karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya
2. Harry | November 12, 2008 at 3:48 pm
sedih memang.. jarang orang yang setia kawan seperti itu zaman sekarang.. kebanyakan orang sekarang berteman karena ada maksudnya… banyak. bukan smeua, hehe
3. ndop | November 12, 2008 at 7:46 pm
dan setiap orang memandang segala sesuwatu itu punya pandangan sendiri-sendiri… jadi ya ndak bisa dengan mudahnya mengeneralisir suatu keadaan..
*halaaah.. si ndop sok tau!!!*
4. aRuL | November 13, 2008 at 9:39 am
jadi terharu.. demikian mungkin yang disebut sebagai sahabat sejati.
5. nico kurnianto | November 23, 2008 at 9:25 am
merenung…..
6. ndn | April 13, 2009 at 3:30 am
klw ada nak gen x kyk yg gugur d medan perang itu,, siddiq kira2 bantuin g y???
7. IblizOffence | Oktober 17, 2009 at 2:13 am
Luar Biasa
Kadang orang kesiasiaan itu beerbuah manis
contoh tadi, letnannya bilang jangan dia malah pergi
eh ternyata tidak sia-sia karena temannya masih sempat memberikan sesuatu