Believe in Yourself

"Kalau bukan kita sendiri yang memulai untuk percaya pada diri kita sendiri, terus siapa lagi?" (siddiqbasid)

Ada seorang ayah dan anak yang memiliki kuda piaraan yang semakin lama terlihat semakin kurus dan nampak kurang sehat. Melihat kuda tersebut sang anak menyarankan ayahnya untuk menjual saja kuda tersebut. Sang ayah pun setuju dengan saran anaknya.
Maka pada suatu pagi berjalanlah ayah anak itu menuju ke pasar hewan untuk menjual kuda tersebut. Mereka berdua bergantian menuntun kuda tersebut, karena jarak pasar cukup jauh, mereka berdua cukup kelelahan dan ngos-ngosan.
Dalam keadaan seperti itu, beberapa orang yang lewat dan memandangi mereka dengan penuh iba.

 

Salah seorang bertanya, “Mau dibawa kemana kuda itu ?”
Sang ayah menjawab, “Mau saya jual ke pasar hewan”.
“Itu kuda hidup atau kuda mati ?” tanya orang itu lagi.
Sang ayah heran, “tidakkah anda lihat, kuda inikan masih bisa jalan ?”
“Kalau kuda itu masih hidup, seharusnya dinaiki saja bergantian, biar tidak capai !”, ujar orang tersebut.
Ayah dan anak itu saling bertatap, “wah….benar juga ya…, kenapa nggak dinaiki saja bergantian, biar nggak capai.”
Sang ayah menyuruh anaknya untuk menaiki kuda tersebut dan dia menuntunnya dari depan.

 

Baru beberapa meter mereka berjalan, lewat lagi orang kampung yang baru datang dari kebun. Dia geleng-geleng kepala sambil berkata, “Dasar anak durhaka, mana baktimu kepada ayahmu yang kurus dan tua begitu, kamu itu masih muda dan sehat masa duduk di atas kuda sedangkan ayahmu dibiarkan berjalan terengah-engah!”
Mendengar omongan orang kampung tersebut, si anak langsung segera turun dari kuda, “Ayah, engkau saja yang naik kuda, aku turun saja.”
Sang ayah setuju saja, dia memang sudah kelelahan daritadi. Dia segera naik kuda tersebut dan anaknya yang menuntun kuda tersebut dari depan.

 

Belum lagi hilang penat sang ayah, lewat lagi beberapa orang kampung, dan diantara mereka ada yang paling tua berkata, “Huhuhh…orangtua macam apa kamu, anaknya yang masih kecil begitu disuruh menuntun kuda, sedang dia malah enak-enakan ongkang-ongkang kaki diatasnya.”

Sang ayah mendengarkan pembicaraan orang-orang tersebut sambil menunduk. Begitu mereka sudah berlalu, Paijo segera turun dari kuda tersebut dan kebingungan, “Kenapa semuanya jadi serba salah begini, jadi bagaimana ? ah…ya…kita naiki saja kuda ini berdua”, usul sang ayah. Si anak pun menyetujuinya. Maka dengan gembira ayah anak tersebut menaiki kuda tersebut.

 

Nah…aman sekarang, begitu fikiran mereka.
Tiba – tiba mereka terkejut oleh suara bentakan, “Hai, manusia kejam ! Itu kuda sudah hampir mampus. Jalan sendiri saja nyaris tidak kuat. Dia, kan juga makhluk Allah. Kalian ini manusia punya akal dan perasaan. Dimana rasa iba kalian, hai manusia kejam ?”

 

Cepat-cepat mereka turun. Dipandanginya kuda itu. Betul hampir mati kelelahan membawa beban di punggungnya. Tapi bagaimana caranya membawa ke pasar hewan ? Dituntun salah, dinaiki sendiri dimarahi orang, anaknya yang naik dibilang durhaka, dinaiki berdua jadi kejam. Lantas bagaimana ?

Memandangi ayahnya yang kebingungan, si anak memberi saran, “Kita gotong saja, Yah!”
“Ah…beetul, itu ide bagus”, ujar sang ayah.
Maka kuda itupun akhirnya diikat pada sepotong kayu, dan di gotong ke pasar hewan.

 

Sesampainya di gerbang menuju ke kota, lewat beberapa orang pedagang, mereka terheran-heran menyaksikan ayah anak yang menggotong seekor kuda.
“Kelihatannya kuda tersebut masih cukup sehat”, kata salah seorang dari mereka kepada kawannya.
Maka si pedagang tersebut kemudian bertanya kepada sang ayah, “Kuda itu lumpuh ya….?”
Karena yang bertanya seorang pedagang, buru-buru sang ayah berkata, “Oh…tidak, kuda ini masih kuat berlari kok.”
“Masih kuat lari. Kuda masih kuat lari begitu kok di gotong-gotong seperti itu. Dasar dunia sudah terbalik. Mengapa tidak dituntun saja, biar anda tidak capai-capai menggotongnya. Huh dasar kurang waras”.
Akhirnya kuda tersebut tidak laku karena para pedagang tersebut mengira kuda itu lumpuh.

 

Taroi telleng linoe’, tellaing pe’sonaku

 

Seperti pepatah bugis diatas yang artinya biar dunia tenggelam, tak akan berubah keyakinanku. Bila kita ingin memuaskan semua orang, maka yakinlah itu hal yang mustahil…. atau bahkan kita malah justru merugikan diri sendiri. Jika kita sudah punya niat atau keyakinan, janganlah mudah terombang-ambing dengan perkataan atau pendapat orang lain. Begitu pula jika kita punya cita-cita. Jangan menyerah dan mudah tergoyahkan karena kerikil-kerikil kecil yang menghalangi anda untuk mencapai impian tersebut. Percaya pada diri anda. Believe in yourself.

Mungkin video ini bisa menyadarkan kita akan pentingnya percaya pada diri kita.

 

Pustaka:

Buku : Fight Like a Tiger Win Like a Champion

Situs : http://www.laylawaty.blogspot.com

One thought on “Believe in Yourself

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s