Buku dan Anak ITS

Suatu hari teman se-kos datang ke kamar ku. Mungkin dia ingin meminjam buku (lagi). Dia langsung melihat-lihat buku di rak kecil, serasi dengan kamar kecilku. Itu sebenarnya rak sepatu yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi rak buku.

“Kamu itu tipe anak ITB”, celetuknya.
Mengkerutkan dahi. “Maksudnya?”, balasku.
“Kata Pak X, bedanya anak ITS sama ITB ya bukunya”, jawabnya datar. “Kalo anak ITS itu malas beli buku, gak seperti ITB”, lanjutnya.
Sedikit senyum tersungging di bibirku.

Bisa dibilang buku di rak kecil itu lumayan banyak. Isinya gak semua berbau elektro. Bahkan buku elektro menjadi minoritas. Mungkin cuma lima – tujuh buku elektro. Kebanyakan novel dalam negeri. Mulai dari tetralogi laskar pelangi (kecuali Maryamah Karpov), novel Kang Abik Habiburrahman El Zhirazy, novel 5cm dan novel “2” nya Mas Donny, novel 9 Summer 10 Autumn, sampai buku motivasi Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 1 & 2, atau buku INDONESIA  : habis gelap terbitlah terang Pak Dahlan Iskan.

Jendela Dunia

Jendela Dunia

Kegemaranku membaca buku mungkin lahir waktu saya duduk di bangku SMP. Waktu guru bahasa indonesia mewajibkan kami membaca novel. Sampai wajib membuat laporan berapa lembar novel yang kita baca tiap harinya. Sejak saat itu saya gemar membaca novel yang ada di perpustakaan atau novel teman.

Kegemaran itu meningkat menjadi kegemaran membaca komik. Lalu meningkat menjadi kegemaran membaca koran, buku tutorial komputer, sampai buku tutorial tentang photoshop atau corel. Tapi kegemaran itu tidak tertular menjadi kegemaran membaca buku sekolah atau kuliah. Kepalaku langsung pusing atau ngantuk kalo baca buku kuliah. Butuh sebuah paksaan.

Kalau kegemaran mengoleksi buku mungkin gara-gara P-Man. Beliau sukses menjadikanku penganut sekte pengoleksi buku. Namanya Pak Mansyur, kami biasa memanggilnya P-Man. Guru matematika SMP dan orang yang berjasa membuka hati ini untuk berfikir maju dan ke depan. Tidak menjadi katak dalam tempurung. Mungkin butuh postingan khusus untuk membahas P-Man dan keajaibannya.

P-Man lah yang sering berkoar-koar di kelas untuk mengoleksi buku. “Beli buku yang banyak, masalah dibaca atau tidak itu belakangan”. Dia juga sering mencomot satu dua potongan kalimat motivasi dari buku setiap memulai atau mengakhiri pelajaran. Siswa yang tergiur kadang memohon untuk meminjam buku di rak besar yang ada di rumahnya. Ah, saya kangen mendengar kata-kata motivasi dari orang itu. Kabar terakhir, katanya beliau sedang menempuh S3 di negeri paman sam.

~~~~~~~

Eh, emang benar ya kalo anak ITS malas beli buku? Trus anak ITB rajin beli buku?

Jendela Dunia : ~rescuepack deviantart.com

4 thoughts on “Buku dan Anak ITS

  1. Asop berkata:

    Aih, nggak lah, gak bisa disamaratakan dong.😀

    Saya sebagai anak ITB, suka ngoleksi buku. Suka ngefotokopi buku teks, dan menyimpannya rapi di rak buku kamar saya. :mgreen:
    Tapi teman2 saya pun banyak juga yang buku teksnya “hanya” lembaran fotokopi slide presentasi dari dosen.😆

    Dan di ITS pun saya yakin banyak juga yg kutubuku dan suka buku.

    Eh, apakah kutubuku harus punya buku di kamarnya?😀

  2. isil berkata:

    hohoho, untuk yang satu ini kita se ide,..
    saya juga sangat suka mengoleksi buku, jika dihadapkan pada 2 kasus, ketika ada di toko baju dan toko buku , mungkin saya akan lebih lapar mata di toko buku…

    tapi bagi saya menghabiskan uang untuk beli buku itu ibarat investasi..investasi ilmu, tidak rugi sama sekali…
    jadi saya tidak pernah pelit jika untuk beli buku…

    salam kenal mksh sudah berkunjung ke blog saya sebelumnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s