Empat Tahun Lalu Itu, Nostalgia

“Kabupaten Pangkep”

Wajah-wajah lelah namun bahagia tergambar di wajah mereka sore itu. Di tangan mereka ada beberapa berkas tersampul dalam sebuah map bertuliskan “Mahasiswa Baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember”. Belasan anak nampak menunggu antrian, beberapa telah masuk ruang tes kesehatan, dan beberapa yang lain terlihat menginputkan data ke komputer. Kurang lebih seperti yang aku lakukan 4 tahun lalu. Nostalgia.

Kutoleh ke samping, beberapa raut wajah tak kalah bahagianya dengan wajah anak-anak tadi. Beberapa dari mereka tentu adalah ayah dan bunda anak-anak tadi. Saya pun tenggelam dalam lamunan raut senyum mama* dan bapak ku di Pangkep.

Saya masih ingat bagaimana beratnya hati mama untuk melepas anak sulungnya ini ke Jawa. Malam sebelum berangkat beliau membantu melipat pakaianku lalu memasukkannya ke tas yang akan kubawa esoknya. Kulihat beliau mencoba menahan tangis yang akhirnya tak tertahankan itu. Bapak yang lebih tegar menggoda mama, “Baru juga ke Jawa sudah nangis kayak gitu, belum ke Jepang”. Begitulah cara mama menyampaikan rasa sayang yang tak terhingga kepada anaknya. Tanpa sebait kata namun terpahat jelas di hati.

Mama pernah berpesan, “Kalau kamu punya harta mungkin orang lain bisa mengambilnya dari kamu, beda dengan ilmu yang orang lain tidak akan bisa merampasnya dari kamu”. “Tuntutlah ilmu sebanyak yang kamu mau”, sambung mama.

Orang tua saya mungkin berpendidikan rendah tapi mereka tidak berfikiran rendah kalau masalah pendidikan buat anak-anaknya. Mereka memang terlahir dari keluarga ekonomi lemah sehingga pendidikannya cuma sampai tingkat SMK, padahal mimpi mereka tidak cuma sampai SMK. Saya masih ingat cerita mama tentang bagaimana susahnya beliau sampai harus bekerja sebagai tukang masak, tukang cuci, tukang bersih-bersih di rumah orang lain hingga mencari kayu bakar di hutan untuk bisa tetap bersekolah. Atau cerita bapak yang harus mengamen bersama adiknya untuk bisa mengganjal perut yang lapar.

Makanya mereka selalu mendukung penuh saya dan adik-adik dalam hal pendidikan. Mereka tidak mau apa yang terjadi pada mereka terulang pada kami anak-anaknya.

Jika tidak ada halangan, InsyaAllah saya akan wisuda pertengahan september tahun ini. Semoga mama bapak ku bisa bangga, setidakya mereka bisa bangga terhadap nasib yang pernah tidak berpihak kepada mereka untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Empat tahun lalu mama pernah bilang, “Kamu harus lulus empat tahun, kalo lebih dari empat tahun kamu harus membiayai kuliah mu sendiri”. Saya yakin seyakin-yakinnya kalau mama tidak serius mengatakan itu. Kalaupun kuliah saya lebih dari empat tahun, beliau pasti tidak akan tega melihat saya membiayai kuliah dengan keringat sendiri. Tapi sekarang mama bisa tersenyum, tantangan yang kujawab dengan “InsyaAllah bisa” empat tahun lalu itu bisa saya buktikan. InsyaAllah.

*) Seperti sapaan orang Sul-Sel pada umumnya untuk menyebut ibu, mama dibaca mama’ , ada sedikit penekanan di ujungnya.

Gambar “Kabupaten Pangkep” : http://www.flickr.com

Iklan

5 thoughts on “Empat Tahun Lalu Itu, Nostalgia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s