Aku, Kamu, dan Janji Tuhan

Hujan yang turun sejak ba’da dzuhur tak kunjung berhenti hingga sore itu. Tambah deras malah. Bagiku hujan seperti itu selalu kondusif untuk bermalas-malasan di balik selimut hingga lupa waktu. Namun bermalas-malasan di sofa panjang sambil menyaksikan siaran TV lebih menarik perhatian hari itu. Mama juga ikut nonton.

Tu..Tut…Tu..Tut… Sebuah SMS masuk ke handphoneku.

“SMS dari pacar mu?”, tanya mama yang melihatku ketawa kecil setelah membaca SMS yang barusan masuk.

“Pacar ?”, jawabku sambil mengenyitkan dahi.

Mama langsung duduk mendekat, persis di sebelah ku.

Mati, kena interogasi lagi nih.

“Bukan, Ma, cuma teman !”

“Cuma teman kok sampe senyum-senyum gitu. Pacar kamu namanya siapa ?”

“Saya gak punya pacar, Ma”

Gak usah disembunyi-sembunyikan

“Memang tidak ada yang disembunyikan kok, Ma.

Saya gak punya pacar. Serius !”

“Serius ? Tak adakah seorang wanita yang singgah di hati mu?

Lihat teman-teman sebayamu, masing-masing sudah punya pasangan (tiap) malam minggu.”

“Ma, diantara banyaknya pertemuan tentu ada satu dua wanita yang menjadi idaman ku.

Tapi, apakah haruskah aku memintanya untuk menjadi pacarku dan menemaniku menghabiskan malam di tiap sabtu?”

Ah, bukannya kata “pacar” tidak pernah ada dalam perbendaharaan agama kita.

“Ma, bukankah berpacaran berarti meminta wanita itu untuk menunggu?

Pantanglah buat laki-laki sepertiku meminta wanita untuk menunggu.

Tak bolehkah aku meminangnya saat aku merasa benar-benar siap?

Memintanya untuk menjadi pendamping hidup dunia akhiratku tentunya.

Jodoh, rezeki, dan ajal bukannya sudah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz ya Ma?”

Sejurus kemudian mama membalas pertanyaanku.

“Jodoh memang di tangan Tuhan.

Tapi kalau kita tidak berusaha, jodoh itu akan selamanya hanya berada di genggaman Tuhan.

Yang penting berani memilih dulu, jadi kita tau jodoh apa tidak.

Memangnya kamu tidak takut “kehabisan” wanita yang baik ?”

Aku tersenyum kecil mendengar kalimat terakhir mama.

“Ma, dunia ini tidak akan pernah kehabisan stock wanita-wanita yang setia sujud kepada-Nya di sepertiga malam.

Tidak pernah kehabisan stock wanita-wanita yang senantiasa menutup aurat, menjaganya dari yang bukan muhrimnya.

Tidak pernah kehabisan stock wanita-wanita yang bertutur lemah lembut dan menjaga lisannya.

Tidak akan pernah, Ma.

Kecuali jika tak ada lagi laki-laki yang setia mengumandangkan adzan di surau.

Kecuali jika tak ada lagi laki-laki yang senantiasa menjaga pandangan terhadap yang bukan muhrimnya.

Kecuali jika tak ada lagi laki-laki yang melantunkan ayat-ayat Allah dengan tartil.”

“Lalu bukan kah pacaran itu tanda bahwa kita tidak mampu menahan?

Tanda bahwa kita tidak percaya lagi pada janji Tuhan, jika kita baik maka diberi pendamping yang baik pula”

Mama tersenyum mendengar jawabanku. Manis sekali.

“Kamu benar anakku”

#Bersabarlah.

Di dunia ini ada laki-laki yang selalu ingin meminangmu, namun dia tidak merasa mampu. Tepatnya belum merasa mampu. Yang selalu menanti dengan do’a yang selalu terselip diantara do’a yang dibacakan setelah shalatnya. Menanti hingga pertemuan yang dijanjikan itu tiba tepat pada waktunya. Tepat. Tidak kurang tidak lebih.

Iklan

2 thoughts on “Aku, Kamu, dan Janji Tuhan

  1. Miel berkata:

    hari ini, tepat 3 tahun yang lalu saya share tulisan ini di account FB dan saat saya baca lagi sekarang, rasanya masih seperti tulisan baru, nice! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s