Apakah Engkau Memiliki Tuhan Selain Aku?

“Sesungguhnya terdapat perkara besar antara Aku dengan para manusia dan jin.

Aku telah menciptakan mereka, tapi mereka menyembah selain-Ku.

Aku telah memberikan rezeki, tapi mereka bersyukur kepada selain-Ku.

Kebaikan-Ku pada semua hamba telah Kuberikan, namun kejelekanlah yang mereka jadikan balasan untuk-Ku.

Aku telah memberi mereka rahmat kasih sayang -dan Aku sesungguhnya tidak membutuhkan mereka- namun mereka berbuat maksiat kepada-Ku.

Yang berdzikir kepada-Ku adalah sahabat-Ku.

Barang siapa yang ingin bersahabat dengan-Ku, maka ingatlah Aku.

Yang taat kepada-Ku akan masuk dalam golongan kekasih-Ku, sedangkan yang bermaksiat kepada-Ku adalah golongan yang putus dari rahmat-Ku.

Apabila mereka bertobat, maka Akulah kekasih mereka.

Namun, jika mereka enggan, Aku adalah dokter yang akan menguji mereka dari segala kekurangan.

Di sisi-Ku, kebaikan akan dibalas 10 kali lipat atau bahkan Aku tambah.

Sedangkan keburukan akan selalu dibalas dengan hal sepadan atau bahkan Aku ampuni.

Demi keagungan dan kebesaran-Ku, apabila mereka sudi untuk memohon ampun kepada-Ku dari dosa-dosa yang telah mereka lakukan, maka akan Kuampuni mereka.

Barang siapa yang datang pada-Ku untuk bertobat, maka dia akan aku sambut dari jauh.

Barang siapa yang berpaling dari-Ku, maka dia akan Aku panggil dari dekat.

Akan Kutanyakan kepadanya, ‘Hendak kemanakah engkau pergi? Apakah engkau mempunyai tuhan selain Aku?

(sebuah firman Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi)

Semoga “segumpal darah” dalam diri kita bisa tergetar dan membuat seluruh bagian jasad menjadi baik setelah membaca firman tersebut.

Dua Pilihan yang Menyesatkan

Kadangkala saat kita ingin berdakwah, banyak hal yang kita pertimbangkan. Salah satunya adalah merasa keimanan kita kurang. Sebagian orang berkata, “Saya tidak memiliki kemampuan untuk menyeru manusia ke jalan Allah karena iman saya tipis”. Mengenai hal ini ulama berkata,”Janganlah seorang di antara kalian berkata bahwa dia tidak akan berdakwah di jalan Allah sampai imannya sempurna”.

Orang yang berkata demikian berada di antara dua kemungkinan yang sama-sama buruk. Pertama, boleh jadi dia merasa imannya tidak sempurna sampai kematian menjemputnya. Dengan demikian, dia kehilangan kesempatan untuk mendapat pahala dari aktivitas dakwah. Kedua, mungkin saja suatu saat dia berkata, “Kini imanku telah sempurna”. Jika ini terjadi, sungguh, dia telah sesat dan menipu dirinya sendiri. Perhatikanlah bahwa tidak ada satupun dari dua pilihan yang bisa membawa kebaikan. Baca lebih lanjut