Ayo Buat Bangga Negeri Ini | Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC

Bangsa ini memang bukan bangsa yang sempurna. Bahkan mungkin masih jauh dari kata “sempurna”. Perekonomian bangsa ini masih termasuk rendah. Masih banyak rakyat miskin dan pengangguran. Masih banyak pejabat yang menghianati negaranya sendiri. Janji-janji untuk mensejahterakan rakyat kini mulai terlupakan akibat terbuai kenikmatan menggunakan uang negara. Para aktivis tidak tanggung-tanggung merusak fasilitas umum dan dengan tenangnya mereka mengatakan hal itu demi kepentingan rakyat. Suporter sepakbola tak henti-hentinya melakukan kerusuhan. Mereka terbuai fanatisme hingga lupa bahwa mereka satu bangsa.

Namun saya tetap bangga terlahir sebagai salah satu putra bangsa ini. Bangsa ini adalah bangsa yang kayaraya. Kaya akan sumber daya alam dan budaya.

Saat saya melihat kondisi negara ini yang kacau-balau, saya selalu berfikir optimis. Ini adalah sebuah proses. Belajar dari filosofi tanah liat. Untuk menjadi barang yang berharga, tanah liat harus dibanting diolah dibanting lagi. Tidak cukup sampai situ tanah liat tersebut harus dibakar lagi untuk menjadi barang yang kuat. Dan mungkin seperti itulah negara ini. Butuh sebuah proses. Butuh banyak cobaan. Hingga akhirnya bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Amin.

Namun sampai kapan kita harus menunggu sampai saat itu tiba? Kalau kita begini-begini saja, harapan itu mungkin masih akan lama. Untuk itu marilah kita bangun negeri ini. Mulai dari diri kita. Mulai hari ini.  Ayo kita buat bangga negeri ini.

Kalau bukan kita siapa lagi?

Kalau bukan sekarang kapan lagi?

———-

Tulisan ini khusus saya buat atas partisipasi saya dalam Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC. Untuk melihat artikel lain yang saya buat atas partisipasi saya dalam Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC silahkan klik di sini.

Iklan

Surat Buat Bapak Presiden | Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC

Yth. Bapak Presiden

di

tempat

Saya bukan siapa-siapa di negeri ini.  Saya hanyalah seorang pemuda yang tidak jauh berbeda dengan pemuda kebanyakan yang dimiliki bangsa ini. Seorang pemuda yang telah lama menanti kesejahteraan bangsa ini meski kenyataan  belum sejalan dengan impian-impian itu. Namun saya yakin, suatu saat bangsa ini bisa menunnjukkan lagi taringnya. Ya, saya yakin kita akan sampai di sana. Amin

Begitu banyak cobaan dan masalah besar yang dihadapi oleh pemerintahan Bapak kadang membuat saya merasa iba. Belum selesai masalah yang satu, sudah datang lagi masalah yang lain. Semuanya datang bertubi-tubi. Namun sungguh semua itu akan membuat kita berfikir lebih bijak dan dewasa.

Baca lebih lanjut

Wajibkah Mengenakan Jilbab?

Bismillahirrahmanirrahim

Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinyaDan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya,. ……” (Surat An-Nur : 31)

Wahai saudariku, bacalah ayat di atas lalu resapi. Sebuah perintah yang saya rasa cukup jelas. Apakah di dalamnya tersirat bahwa memakai jilbab itu merupakan sebuah pilihan? Apakah masih ada keraguan dalam diri anda untuk mengenakan jilbab? Semoga tulisan berikut ini bisa lebih meyakinkan keragu-raguan anda.

Mengapa ukhti belum memakai jilbab?

Belum diberi petunjuk. Belum diberi petunjuk, belum siap, belum pantas, belum mendapat hidayah dan beberapa jawaban sejenis lainnya yang sering kita dengar jika kita menanyakan alasan seorang wanita belum mengenakan jilbab. Sungguh jawaban pelarian yang bodoh bagi saya. Izinkanlah saya menyampaikan sebuah gambaran mengenai hal tersebut.

Seseorang yang menjadikan alasan tersebut selalu merasa imannya belum pantas untuk mengenakan jilbab. Dia terus berlindung di bawah pemikiran sempitnya itu. Muslimah yang berkata demikian berada di antara dua kemungkinan yang sama-sama buruk. Pertama, boleh jadi dia merasa imannya tidak sempurna hingga kematian pun menjemputnya. Dengan demikian, dia kehilangan kesempatan untuk menjalankan kewajibannya tersebut. Kedua, mungkin saja suatu saat dia berkata, “Kini imanku telah sempurna”. Jika ini terjadi, sungguh, dia telah sesat dan menipu dirinya sendiri. Perhatikanlah bahwa tidak ada satupun dari dua pilihan yang bisa membawa kebaikan.

Hanya ada satu pilihan yaa ukhti. Kenakanlah jilbabmu. Jangan menjadikan iman sebagai alasan anda tidak melakukan kewajiban. Baca lebih lanjut