Siapa yang Tidak Merindukan Suami Seperti Ini?

“KATA-KATA HIKMAH” Kisah Istri Uje

Berikut ini adalah penuturan Pipik saat tahlilan malam kedua yang disiarkan di program Just Alvin. Semoga bisa diambil hikmahnya :

“Uje buat saya, beliau selain suami, beliau guru buat saya. Saya bangga luar biasa. Saya selalu ingat kata-kata beliau, yang selalu mengajarkan saya dan anak saya. Ke anak saya beliau selalu bilang, Abi tidak akan pernah memaksa kalian harus seperti Abi. Kalian sudah bermanfaat untuk orang lain saja, Abi sudah senang.

Mau kalian jadi apapun kalian harus beriman, jangan tinggalin salat. Selalu setiap kali bertemu siapapun, baik itu pemulung, kalian harus mendoakan dia. Itu yang selalu diterapkan kepada anak-anak.

Dan beliau mencontohkan hal-hal yang luar biasa. Seperti di lampu merah, ada penjual apapun, beliau selalu beli. Sampai anak-anak (bertanya), Abi buat apa beli kemoceng. Udah beli saja yang penting bermanfaat. Yang terpenting mereka pulang bawa rezeki buat istri dan anak-anaknya. Itu yang selalu dicontohkan kepada anak-anak.

Maaf, terus ada peminta-minta dia selalu bilang ke anak-anak, ayo siapa yang mau ngasih, ayo siapa yang punya uang. Lalu anak-anak saling berebutan mencari di kantongnya masing-masing.

Dan beliau juga selalu menasehati saya, kamu harus jadi wanita yang kuat. Karena kamu adalah ibunya muslimat-muslimat semuanya.

Kamu harus bisa mendidik anak-anak, karena lima menit kedepan kita gak pernah tau skenario Allah untuk kita, lima menit ke depan, abi gak pernah tau apa yang akan terjadi pada diri abi. Jadi kamu harus kuat, kamu harus siap.

Dan Allah membuktikan itu. Lima menit gak pernah tau, takdir baik seperti ini. Dan saya bangga luar biasa.

Beliau juga mengajarkan saya, jika kita dicaci maki, kita dizolimi, kita jangan pernah membalasnya dengan caci makian. Doakan mereka. Itulah sesungguhnya kemuliaan.

Saya, juga berterimakasih kepada semua masyarakat dimanapun. Saya yakin beliau sekarang sudah bertemu dengan Rasulullah Alaihi wassalam, yang menjadi kebanggan beliau.

Setiap mau tidur, saya tidak pernah tidak mendengar dari mulut beliau bersenandung, bershalawat. Tidak pernah tidak dengar. Sampai belakangan ini juga selalu begitu.

(Pipik terisak. Dia terdiam sesaat….)

Sewaktu saya melihat dan menyaksikan sendiri, begitu banyak antusiasme masyarakat yang ingin memegang keranda, menggendong dan ingin mensolatkan, ingin mengantar ke pemakaman. Di dalam mobil jenasah saya peluk keranda, saya ngobrol. Dan saya yakin suami saya mendengarkan saya. Saya bilang, Abi, Umi bangga punya suami seperti Abi. Abi bangga, Allah kirimkan manusia seperti Abi.

Karena saya sama beliau dari nol. Karena saya juga bukan… bukan…bukan… Saya juga bukan wanita, bukan wanita yang baik-baik…kita berdua mengarungi perjalanan yang luar biasa. Kita berdua susah senang. Ini adalah ujian yang harus saya nikmati berdua.

Saya bilang, Abi bisa lihat ribuan masyarakat mengagumi Abi. Abi bangga…Abi bangga. Umi janji, Umi akan mendidik anak-anak, membesarkan anak-anak. Sehingga Abi bangga sama mereka. Mereka akan menjadi besar seperti Abi. Saya bicara seperti itu.

Ya Allah, Saya ingat satu, saya ingat terakhir kemarin. Saya gak menganggap ini firasat. Tapi saat siang, saya tidur sama beliau, beliau pegang tangan saya. Terus beliau bilang, Umi belajar dong, mandiin jenasah. saya bilang gak ah, takut.

Gak apa-apa, kita coba yuk, Dikaffa-nin. Siapa yang jadi modelnya Bi, saya bilang begitu. Terus dia bilang, Abi saja yang jadi modelnya. Ya sudah kita berdua saja yang jadi modelnya. Saya bercandain begitu. Atau Umi yang jadi Malaikatnya deh, terus umi tanya, “Man Robbuka”. Saya masih becandain seperti itu. Dan beliau ketawa..

Beliau..beliau..ngajak saya baca “Subhanal Malikil Quddus”, yang selalu beliau baca sebelum memulai ceramah. Ayo, Mi, kita baca bareng-bareng. Terus saya bilang, Abi, kok saya baca “Subhanal Malikil Quddus” suka terbalik-balik yah. Lalu beliau tuntun saya.

Dan saya ingat kata-kata terakhir beliau di sini, di meja makan. Beliau bilang, kalau Abi masuk surga, terus Abi melihat gak ada orang tua Abi di situ, Abi akan tanya sama Allah, ya Allah, saya tidak mau masuk surga karena tidak ada orang tua saya. Saya mau keluar mencari orangtua saya.

Lalu dia bertanya kalau Abi masuk surga, gak ada anak-anak Abi, Abi akan bilang sama Allah. Ya Allah saya masuk surga tapi kamu meninggalkan anak-anak saya.

Kalau Abi masuk surga, Abi gak melihat  Umi, Abi akan keluar, ya Allah kenapa gak ada istri saya. Jadi, buat saya beliau lebih mengutamakan orang lain terlebih dahulu.

Salamun kha irotim muttaqin, semoga kita semua penghuni kuburnya dan surganya bisa berkumpul bersama di sana.

Allahumma aamiin,semoga kita bisa memetik hikmah di dalamnya

Siapa Lebih Baik : Aku atau Umar bin Khattab?

Umar bin Al Khattab Gate

SURABAYA. UMAR BIN KHATTAB – adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga menjadi khalifah kedua  dari empat Khalifah Ar-Rasyidin. Umar bin Khattab terkenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana. Selama pemerintahan Umar bin Khattab, kekuasaan islam tumbuh dengan sangat pesat. Meskipun Umar bin Khattab sangat sukses menjadi pemimpin islam saat itu, dia tetap tidak meninggalkan gaya hidupnya yang sederhana.

~~~~~~~~~~~~~~

Pilpres tahun ini dimenangkan kembali oleh presiden sebelumnya. Setelah acara pelantikan presiden terpilih usai, semua anggota kabinet pulang ke rumah masing-masing, termasuk sang presiden terpilih. Sekitar beberapa jam setelah acara pelantikan , sang presiden menelpon salah seorang menterinya.

Presiden: Assalamu’alaikum pak menteri.callme

Menteri: Wa’alaikumussalam … ada apa, Pak? ada yang bisa saya bantu?

Presiden: Begini pak menteri, bapak bisa tidak ke rumah saya sekarang? ada hal yang mau saya bicarakan empat mata dengan bapak.

Menteri: o0o… bisa pak, bisa pak, dengan senang hati. Jam berapa, Pak ?

Presiden: sekarang juga Pak, saya tunggu di rumah.

Menteri: iya pak, saya segera kesana sekarang. Tunggu sekitar 15 menit, InsyaAllah saya tiba di rumah bapak.

Siapa Lebih Baik?

Wajibkah Mengenakan Jilbab?

Bismillahirrahmanirrahim

Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinyaDan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya,. ……” (Surat An-Nur : 31)

Wahai saudariku, bacalah ayat di atas lalu resapi. Sebuah perintah yang saya rasa cukup jelas. Apakah di dalamnya tersirat bahwa memakai jilbab itu merupakan sebuah pilihan? Apakah masih ada keraguan dalam diri anda untuk mengenakan jilbab? Semoga tulisan berikut ini bisa lebih meyakinkan keragu-raguan anda.

Mengapa ukhti belum memakai jilbab?

Belum diberi petunjuk. Belum diberi petunjuk, belum siap, belum pantas, belum mendapat hidayah dan beberapa jawaban sejenis lainnya yang sering kita dengar jika kita menanyakan alasan seorang wanita belum mengenakan jilbab. Sungguh jawaban pelarian yang bodoh bagi saya. Izinkanlah saya menyampaikan sebuah gambaran mengenai hal tersebut.

Seseorang yang menjadikan alasan tersebut selalu merasa imannya belum pantas untuk mengenakan jilbab. Dia terus berlindung di bawah pemikiran sempitnya itu. Muslimah yang berkata demikian berada di antara dua kemungkinan yang sama-sama buruk. Pertama, boleh jadi dia merasa imannya tidak sempurna hingga kematian pun menjemputnya. Dengan demikian, dia kehilangan kesempatan untuk menjalankan kewajibannya tersebut. Kedua, mungkin saja suatu saat dia berkata, “Kini imanku telah sempurna”. Jika ini terjadi, sungguh, dia telah sesat dan menipu dirinya sendiri. Perhatikanlah bahwa tidak ada satupun dari dua pilihan yang bisa membawa kebaikan.

Hanya ada satu pilihan yaa ukhti. Kenakanlah jilbabmu. Jangan menjadikan iman sebagai alasan anda tidak melakukan kewajiban. Baca lebih lanjut