Saya Hampir Dijual oleh Orang Tua Sendiri

Film Indonesia yang ceritanya diangkat dari sebuah novel pasti tidak memuaskan orang yang pernah membaca novelnya, itu menurut pengamatan saya. Pertama, mungkin apa yang dibayangkan Si Pembaca saat membaca novel berbeda dengan yang ada di film. Kedua, karena sudah baca novelnya tentu dia sudah tahu jalan cerita hingga endingnya. Ketiga, cerita yang di film beda sama cerita yang di novel. Dan berbagai alasan lainnya. Kembali ke pribadi masing-masing.

Tiap orang kan punya taste masing-masing, iya gak ?

Nah, kemarin saya menonton film Negeri 5 Menara bareng IKA Smudama Surabaya di XXI Pakuwon. Saya sudah pernah membaca novelnya Bang Ahmad Fuadi itu. Terus, filmnya termasuk kategori film yang termasuk mengecewakan pembaca novelnya tidak? Belum tentu. Tapi kalo saya sih kecewa karena tidak seperti harapan saya.

Cukup sampai di sini, saya tidak akan membuat resensi atau resume tentang film ini. Saya cuma menyorot salah satu tokoh yang ada di film tersebut, Baso Salahuddin. Dia berasal dari Goa, Sulawesi-Selatan. Saya juga berasal dari Sulawesi-Selatan tapi dari kabupaten yang berbeda, Kab.Pangkep.

Dalam beberapa adegan Baso menggunakan kata-kata “iya mi”, “jadi mi”, dan beberapa kata lain yang disandingkan dengan akhiran “mi”. Sebenarnya memang tidak ada aturan kata-kata apa saja yang bisa disandingkan dengan akhiran “mi”. Tapi bagi telinga orang makassar mungkin akan terdengar aneh dan kurang pas.

Atau cara teman-teman Baso sewaktu memanggil namanya. Kalau menurut tata bahasa pergaulan makassar (yang memang tidak ada aturan tertulisnya), Baso diucapkan dengan sedikit penekanan diakhir huruf o menjadi Baso’. Memang kebanyakan pengucapan kata-kata bugis dan makassar ada penekanan diakhirnya. Ini yang kadang membuat sulit orang luar makassar untuk menggunakan logat makassar.

Mendengar logat “aneh” seperti itu, saya jadi teringat tetangga saya yang orang jawa. Rumahnya persis berada di sebelah rumah saya. Logatnya kurang lebih se”aneh” itu. Logat jawa yang berusaha di-makassar-kan. Kadang saya senyam-senyum kalo beliau lagi ngomong. Mungkin sama dengan yang dirasakan teman-teman surabaya kalau saya lagi ngomong. Logat makassar yang berusaha di-jawa-jawa-kan.

Kata pepatah jawa, different strokes for different folks. Lain lubuk lain belalang. Tiap daerah punya khas nya masing-masing.

Ngomong-ngomong soal tetangga saya yang jawa itu, saya jadi teringat tradisi nyeleneh yang hampir menyesatkan orang tua saya. Tetangga saya itu orangnya baik kok. Beliau bahkan sering memberi saya hadiah kalau dapat rengking. Soal tradisi nyeleneh itu bisalah dianggap sebagai kekhilafan.

Katanya di jawa itu (entahlah jawa bagian mana) kalau wajah anaknya sangat mirip dengan bapaknya, maka anaknya itu harus (entah itu fardhu atau fardhu ain)dijual ke orang lain. Kalau tidak maka akan mendatangkan bencana.Nah, orang tua saya yanggakpernah duduk di bangku kuliah sempat terhasut. Hampir saja saya dijual sama tetangga lama saya yang ada di Tonasa II.

Untunglah kedua orang tua saya masih menggunakan akal sehat dan diberi hidayah oleh Allah SWT. Emangnya saya barang dagangan yang seenaknya dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain.

Sampai sekarang saya masih penasaran, beneran ada tradisi kayak gitu?

Seandainya saya dijual saat itu, judul yang tepat untuk cerita itu adalah “Putra yang Terjual”. Lebih hits dari Putri yang Tertukar. LOL

Iklan

Ayo Buat Bangga Negeri Ini | Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC

Bangsa ini memang bukan bangsa yang sempurna. Bahkan mungkin masih jauh dari kata “sempurna”. Perekonomian bangsa ini masih termasuk rendah. Masih banyak rakyat miskin dan pengangguran. Masih banyak pejabat yang menghianati negaranya sendiri. Janji-janji untuk mensejahterakan rakyat kini mulai terlupakan akibat terbuai kenikmatan menggunakan uang negara. Para aktivis tidak tanggung-tanggung merusak fasilitas umum dan dengan tenangnya mereka mengatakan hal itu demi kepentingan rakyat. Suporter sepakbola tak henti-hentinya melakukan kerusuhan. Mereka terbuai fanatisme hingga lupa bahwa mereka satu bangsa.

Namun saya tetap bangga terlahir sebagai salah satu putra bangsa ini. Bangsa ini adalah bangsa yang kayaraya. Kaya akan sumber daya alam dan budaya.

Saat saya melihat kondisi negara ini yang kacau-balau, saya selalu berfikir optimis. Ini adalah sebuah proses. Belajar dari filosofi tanah liat. Untuk menjadi barang yang berharga, tanah liat harus dibanting diolah dibanting lagi. Tidak cukup sampai situ tanah liat tersebut harus dibakar lagi untuk menjadi barang yang kuat. Dan mungkin seperti itulah negara ini. Butuh sebuah proses. Butuh banyak cobaan. Hingga akhirnya bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Amin.

Namun sampai kapan kita harus menunggu sampai saat itu tiba? Kalau kita begini-begini saja, harapan itu mungkin masih akan lama. Untuk itu marilah kita bangun negeri ini. Mulai dari diri kita. Mulai hari ini.  Ayo kita buat bangga negeri ini.

Kalau bukan kita siapa lagi?

Kalau bukan sekarang kapan lagi?

———-

Tulisan ini khusus saya buat atas partisipasi saya dalam Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC. Untuk melihat artikel lain yang saya buat atas partisipasi saya dalam Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC silahkan klik di sini.

Surat Buat Bapak Presiden | Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC

Yth. Bapak Presiden

di

tempat

Saya bukan siapa-siapa di negeri ini.  Saya hanyalah seorang pemuda yang tidak jauh berbeda dengan pemuda kebanyakan yang dimiliki bangsa ini. Seorang pemuda yang telah lama menanti kesejahteraan bangsa ini meski kenyataan  belum sejalan dengan impian-impian itu. Namun saya yakin, suatu saat bangsa ini bisa menunnjukkan lagi taringnya. Ya, saya yakin kita akan sampai di sana. Amin

Begitu banyak cobaan dan masalah besar yang dihadapi oleh pemerintahan Bapak kadang membuat saya merasa iba. Belum selesai masalah yang satu, sudah datang lagi masalah yang lain. Semuanya datang bertubi-tubi. Namun sungguh semua itu akan membuat kita berfikir lebih bijak dan dewasa.

Baca lebih lanjut

Wajibkah Mengenakan Jilbab?

Bismillahirrahmanirrahim

Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinyaDan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya,. ……” (Surat An-Nur : 31)

Wahai saudariku, bacalah ayat di atas lalu resapi. Sebuah perintah yang saya rasa cukup jelas. Apakah di dalamnya tersirat bahwa memakai jilbab itu merupakan sebuah pilihan? Apakah masih ada keraguan dalam diri anda untuk mengenakan jilbab? Semoga tulisan berikut ini bisa lebih meyakinkan keragu-raguan anda.

Mengapa ukhti belum memakai jilbab?

Belum diberi petunjuk. Belum diberi petunjuk, belum siap, belum pantas, belum mendapat hidayah dan beberapa jawaban sejenis lainnya yang sering kita dengar jika kita menanyakan alasan seorang wanita belum mengenakan jilbab. Sungguh jawaban pelarian yang bodoh bagi saya. Izinkanlah saya menyampaikan sebuah gambaran mengenai hal tersebut.

Seseorang yang menjadikan alasan tersebut selalu merasa imannya belum pantas untuk mengenakan jilbab. Dia terus berlindung di bawah pemikiran sempitnya itu. Muslimah yang berkata demikian berada di antara dua kemungkinan yang sama-sama buruk. Pertama, boleh jadi dia merasa imannya tidak sempurna hingga kematian pun menjemputnya. Dengan demikian, dia kehilangan kesempatan untuk menjalankan kewajibannya tersebut. Kedua, mungkin saja suatu saat dia berkata, “Kini imanku telah sempurna”. Jika ini terjadi, sungguh, dia telah sesat dan menipu dirinya sendiri. Perhatikanlah bahwa tidak ada satupun dari dua pilihan yang bisa membawa kebaikan.

Hanya ada satu pilihan yaa ukhti. Kenakanlah jilbabmu. Jangan menjadikan iman sebagai alasan anda tidak melakukan kewajiban. Baca lebih lanjut